ML Dengan Guru

Cerita Dewasa Ngesex ML Dengan Guru



blogcopasdoank.blogspot.com - Cerita Dewasa Ngesex ML Dengan Guru

Cerita Dewasa Nama gw billy gw sekolah di salah satu sekolah ternama di Jakarta di sekolah gw adalah seorang ketua osis.

Di suatu hari gw dan Pembina osis gw di tugasin kepala sekolah buat nyari tempat kemah di daerah puncak,nama Pembina osis gw adalah bu ira kira2 umurnya 27 tahunan jujur gw dah lama suka ama dia.

Pagi2 buta gw dan bu ira berangkat buat nyari tempat uh ternyata nyari tempat kemah susah juga sampe sore gw blom dpt satu tempat pun,terpaksa gw dan bu ira nginep di villa sekitar puncak,Dan berniat melakukan pencarian keesokan harinnya.

Ahirnya gw dapet villa yg di sewain juga,setelah sampe gw dan bu ira bergantian mandi trus kita berdua ngobrol2 masalah kemah lama kelamaaan gw ga kuat memendam nafsu setan gw ke dia, tiba2bu ira nyeletuk ngomong "billy kamu udah punya pacar"? dg perasaan kaget pun gw jawab belom bu mang knapa ibu mau th sama saya? Bu ira menjawab dg kesalnya jangan ngelunjak kamu ibu Cuma nanya .

Gw pun dg perasaan malu jawab maaf bu billy Cuma bercanda, padahal dalam hati gw berharap kalo dia mau ama gw,lama kelamaan obrolan kita berdua ga tentu arah dan seiring obrolan yg g tentu arah itu bu ira nanya lagi "kamu pernah ga pengen ngelakuin hubungan suani istri" tanpa rasa takut gw jawab ya sering bu, namanya juga normal, trus gw balik nanya gimana kalo ibu? Ya adalah namanya juga normal apa lagi ibu dah pernah ngerasaain gituan.

Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu ira bahwa aku suka kepadanya, "Oh my God what i'm doing", dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu ira terdiam saja dan langsung keluar dari ruang tamu. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu ira ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu ira. Kami berhenti sejenak di depan kamarnya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kamarnya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kamarnya Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu ira tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu ira terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu ira memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.

Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu ira setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, "bill kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., bill, tutup pintunya dulu dong", bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu ira. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok nya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu ira menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

"Mau apa kau sshh… sshh", tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.

"Ooo… oh.. oh..", desis Ibu ira keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. "Aahh… Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh…"


Tanpa sungkan-sungkan Ibu ira mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu ira seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. "Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?", tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.

"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.." Ibu irapun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu ira mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

"Gantian dong.." Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. "Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?", tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu ira tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu ira agak gemetar. "Ohh…", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu ira menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. "Ooo… ahh… hmm… ssshh…", desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. "Sekarang Ibu ira berbalik. Menungging di atas ranjang Aku mengatur badannya dan Ibu ira menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. "Gaya apa lagi ini?", tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu ira kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.

"Capek?", tanyaku. "Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku".

"Tapi kan nikmat Bu..", jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

"Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas", kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu ira tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu ira kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. "Oh Ibu ira.., aku mau keluar nih ahh.." Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan dan mulai bermain lagi same 4x dalam semalam. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Setelah itu dan segera mencari tempat buat kemah.

Setelah kejadian itu kami sering melakukan hal seperti itu lagi di rumah bu ira dan kadang mencari tempat buat refreshing.

TAMAT

No comments:

Post a Comment