salon-salon terselubung ( salon-salon plus plus ++ ) di Solo

nah mungkin aku agak terlambat memberi info salon, di solo bukan rahasia lagi kalo banyak salon yang berkedok salon tapi ujung-ujung nya usaha pelendiran... cara kerennya kalo makanan wisata kuliner, kalo dunia ini wisata kulisex wkwkwk.... gak da kata terlambat untuk ngasih info daftar-daftar salon ++ di solo bro.. mungkin salah satunya adalah langganan anda.... cek aja:

1. Salon Wijayanti _PAbelan kartosuro.... barat UMS bro selatan jalan raya, tempat agak tertutup..
2. Salon Anayu_PAbelan
3. Salon COrry _Pasar NOngko Solo.. lokasi cukup jelas
4. Salon IMel-BAron Solo
5. Salon Kheisha_SoloBAru
6. Salon Dessy-Banyuanyar Banjarsari
7. Salon Strawberry-Kerten..lokasi agak masuk bro
8. Salon_ Rose Barat PKU Solo.. kalo gak teliti bisa kelewat nih salon
9. Salon Spesific _ Depan MAN 1 Solo
10. Salon Ana-Baron Solo.. 
sementara itu dulu bro.. yg lain bnyak yg gak kecatat....

11. Salon YY Paragon-Solo
12.Salon Yuyun-Dekat Agas
13. Salon Liberty_Brengosan_SOlo
14. Salon D'AMOR-Timur RSUD KAsih Ibu
15. Salon Titin_Pasar Nongko SOlo

sumber : http://duniabawahtanahsolo.blogspot.com/

KIMCIL


KIMCIL adalah

Belakangan ini di Jogja makin banyak terdengar istilah kimcil. Secara etimologis kimcil merupakan singkatan dari “kimpet cilik” atau bisa juga “kimpol cilik” (bahkan ada juga yang mengartikan sebagai kimplikan cilik). Secara terminologis kimcil diartikan sebagai cewek-cewek ABG, lebih khususnya cewek-cewek ABG yang kemayu, centil, sok imut. Biasanya kimcil-kimcil ini haus akan pengakuan dan eksistensi, bahkan dalam lingkungan anak band (khususnya band “indie/underground”) terkadang kimcil sering dikaitkan dengan groupies. Range umur mereka antara 15 – 18 tahun, tampil modis dengan baju-baju distro, berlagak sok aneh/freak, suka cari perhatian dengan cara bertingkah sok nakal demi pengakuan (termasuk di dalamnya : merokok, minum-minuman keras, bertingkah sok bitchy), terkadang over kemayu dan sok manja demi mencari perhatian. Belakangan ini, di lingkungan musik cutting edge Yogyakarta, fenomena kimcil sedang mengalami euforia. Jika pada beberapa tahun ke belakang acara musik cutting edge hanya melulu didominasi kaum adam nan sangar, sekarang kita dapat dengan mudah menemukan gadis-gadis remaja nan wangi dalam berbagai acara musik cutting edge. Sebuah fenomena yang wajar sebenarnya, meningat perkembangan lalu lintas komunikasi dan informasi yang sedemikan dahsyatnya. Sekarang ini informasi tentang hal-hal yang berada di luar mainstream semakin mudah di dapat. Subkultur dan musik cutting edge seperti HC/punk, emo, indie-pop, shoegaze, dan lain sebagainya yang dulu dianggap aneh sekarang dianggap keren. Sekarang ini bagi sebagian remaja, semakin kita berusaha terlihat aneh maka kita akan dianggap semakin keren. Justru mereka yang terlalu mengikuti tren mainstream justru akan di cap sebagai alay and that’s so uncool. Hal seperti tersebut di ataslah yang memotivasi banyaknya remaja-remaja untuk ingin terlihat cool dengan cara mengikuti subkultur cutting edge, pencarian akan pengakuan ini mengirim mereka ke sebuah dunia baru, sebuah neverland bagi jiwa-jiwa tersesat yang melarikan diri dari tekanan dunia orang dewasa. Tekanan yang telah merenggut hak-hak bermain dan berekspresi mereka. Lihatlah bagaimana remaja sekarang ini sedari kecil sudah didesak oleh segala kewajiban akademis mereka, kebebasan bermain dan berekspresi mereka pun tergerus oleh laju pembangunan yang semakin berorientasi profit tanpa mengindahkan berapa banyak jiwa yang rusak. Tapi sayangnya lagi, kehadiran mereka di “neverland” baru ini ternyata juga masih tak lepas dari eksploitasi orang yang lebih tua. Beberapa orang dewasa dalam neverland ini hanya memandang gadis-gadis remaja itu hanya sebagai obyek semata, kehadiran mereka hanya dianggap sebagai bunga yang menyediakan madunya untuk dihisap ramai-ramai dan akhirnya gadis-gadis remaja itu akan layu sebelum berkembang. Kehadiran gadis-gadis remaja tersebut bukanlah hal yang salah, tingkah mereka yang terkesan ingin mencari eksistensi karena memang mereka sudah kehilangan eksistensi jiwa mereka sedari kecil, tingkah mereka yang terkesan mencari perhatian karena mereka memang jiwa mereka butuh perhatian -dan bukan payudara, pantat, atau vagina mereka. Maka dari itu menurut saya ngga usah deh terlalu lebay menanggapi kehadiran gadis-gadis remaja tersebut, toh mereka bisa aja kita anggap sebagai adik-adik atau teman-teman kecil kita. biasa wae. Dalam beberapa kesempatan beberapa teman menilai saya begitu sinis terhadap kimcil, bahkan terkesan pembenci kimcil…ageist dan sexist. Saya tak pernah menjadi pembenci kimcil, saya hanya agak jengah melihat fenomena kimcil yang terlalu overrated ini. Kadang memang jari ini terasa lebih jujur daripada mulut, dan inilah curahan hati pribadi saya yang terdalam tentang kimcil -tanpa ada maksud menjadi “si bener” alias P.C. Harap Cantumkan 



Sumber web Ini Jika Anda Copas: http://www.sik-asik.com/2012/08/inilah-arti-dari-kata-kimcil.html Copyright www.sik-asik.com Under Common Share Alike Atribution